Pagi Ini HW Klaten Tanam Padi dalam Gerakan Tani Bangkit Bersama Lazismu PP dan MEK Klaten

0
120

Sungguh ironis bahwa di negeri yang subur makmur ini, petani menjadi satu rofesi yang paling tidak diminati oleh generasi muda. Profesi petani dipandang sebelah mata, bahkan oleh anak-anak petani sendiri di jaman NOW ini. Anak-anak petani lebih cenderung bekerja di pabrik-pabrik meski dengan penghasilan/upah yang rendah. Petani dipandang sebagai pekerjaan rendah, kotor, dan tidak bergengsi. Hasilnya pun tidak cukup untuk membiayai hidup. Demikianlah yang terjadi dalam konteks sosial-ekonomi, petani sebagai produsen kebutuhan pokok justru berada pada posisi marginal. Demikian halnya dalam konteks politik, keberadaan petani hanya sebagai objek penderita, diperhitungkan suaranya, namun tidak diperhitungkan nasibnya. Dengan kata lain, petani selalu menjadi korban kebijakan politik Negara, pada posisi lemah, bahkan tidak memiliki daya tawar terhadap pasar produknya sendiri. Sebut saja harga jual beras yang dibatasi dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh Pemerintah, sementara harga kebutuhan lain yang lain terus naik tanpa dapat kendali.

Dalam konteks inilah Muhammadiyah merasa perlu hadir di tengah-tengah petani, menemani mereka untuk berjuang meningkatkan harkat dan martabat hidupnya. Oleh karena itu, Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah (Lazismu) Pusat dan Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PDM Klaten membuat pilot project Gerakan Tani Bangkit sebagai satu cara pemihakan Muhammadiyah pada petani. Pilot project 3 tahun ini dilaksanakan di Desa Gempol, Kec. Karanganom, Kab. Klaten bekerjasama dengan Gapoktan Dewi Sri Makmur dan akan diresmikan oleh Ketua PP Muhammadiyah, Bapak Hajriyanto Y. Thohari, pada Ahad, 14 Januari 2018. Peresmian akan ditandai dengan Tanam Perdana benih padi Rojo Lele, satu jenis padi khas Klaten yang legendaris dan telah mengalami tahap-tahap pemuliaan sebagai benih padi unggulan Kab. Klaten. Peresmian di Pusat Penelitian, Pelatihan dan Pengembangan Pertanian Terpadu (P4T) Desa Gempol ini akan dihadiri oleh para petani Gempol dan sekitarnya, para aktivis Muhammadiyah dari Pusat, Wilayah, Daerah, hingga Ranting Gempol, serta para pelajar Muhammadiyah yang tergabung dalam Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kabupaten Klaten akan terjun sambil belajar menanam pagi. Drum Band SMK Muhammadiyah 2 Jatinom juga akan turut memeriahkan acara dengan atraksi-atraksinya. Bupati Klaten, Hj. Sri Mulyani, beserta jajaran terkait diharapkan akan hadir menyaksikan seluruh rangkaian acara.

Melalui pilot project Gerakan Tani Bangkit tersebut, Muhammadiyah akan membantu dan mendampingi Gapoktan Dewi Sri Makmur memperluas lahan pertanian organik dari yang sudah ada saat ini, 12 Ha. Dalam durasi 3 tahun (Januari 2018 – Desember 2020), akan ada penambahan lahan minimal 16 Ha dan melibatkan minimal 80 orang petani sebagai sasaran program. Melalui pendekatan kelompok, petani akan dipinjami modal kerja atau modal produksi dengan skema pembiayaan Qardhul-Hasan. Dengan skema ini, para petani tidak dikenai beban bagi hasil dan angsuran, tetapi mereka akan diajak/diedukasi untuk membayar zakat pertanian setiap habis panen sebesar 5% dari hasil panen bersih melalui Lazismu Daerah Klaten.

HW Klaten Latihan Tanam Padi, Kemaren (13/1/2018)

“Akumulasi dari zakat itu nanti akan kita pergunakan lagi untuk mengadakan pelatihan-pelatihan dan perluasan lahan pertanian organik di Desa Gempol serta di desa-desa dan kecamatan lain yang memungkinkan,” ungkap Ketua MEK PDM Klaten, Wahyudi Nasution. “Mudah-mudahan ketika Muktamar Muhammadiyah ke-48 tahun 2020 di Solo nanti, Gempol akan menjadi destinasi kunjungan studi banding para Muktamirin dan penggembira,” sambungnya.

Kades Gempol, Drs. Nusanto Herlambang, menambahkan, “Ini terobosan dakwah yang bagus dan pantas didukung oleh siapapun yang peduli pada nasib petani. Kami pun optimis, program ini nanti akan memiliki efek berantai yang luar biasa bagi warga Gempol. Paling tidak, di sini akan hidup pokja-pokja khusus pembibitan, pembuatan pupuk organik, pembuatan obat-obatan organik, dan pembuat aneka makanan olahan organik.”

Sumber : Tim Media MEK-MPI Klaten

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here