Oleh : Maslahul Falah (Wakil Sekretaris PCM Laren)

Satu di antara Surat Al-Quran yang membahas tentang proses penciptaan manusia adalah Surat Al-Insan ayat  1-3, (yang artinya) : “Bukankah telah datang kepada manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut ? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”.

Dari ayat ketiga itu, manusia berkemampuan untuk memilih jalan kehidupan di dunia untuk kehidupan akhirat. Ahli Tafsir Wahbah az-Zuhaili menguraikan bahwa Allah SWT menjelaskan dan menerangkan serta memberi pengetahuan kepada manusia pada pilihan hidup berupa :  jalan hidayah atau kesesatan, kebaikan atau keburukan.  Allah juga menunjukkan akibat-akibat, manfaat dan madharat dari pilihan itu. Pilihan hidup ini membelah manusia atau orang  menjadi dua, yakni (1) orang mennsyukuri nikmat-nikmat Allah dan mengimaninya. (2) orang kafir yang mengingkari nikmat-nikmat Allah, yang akan berpaling dari ketaatan dan menentang hidayah Rabbil Alamin ini.

Menurut Wahbah az-Zuhalili, yang dimaksud syakiran (orang yang bersyukur) adalah orang yang mengakui kewajiban mensyukuri Sang pencipta yakni Allah SWT. Sedangkan orang yang kufur adalah orang tidak mengakui kewajiban bersyukur kepada sang Pencipta, yakni Allah SWT. Coba kita renungkan firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 28 (yang artinya) : “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”.

Kita sendiri sangat bersyukur kepada Allah, karena kita memilih jalan menjadi syakiran (orang yang bersyukur). Maka dari itu kita menyadari kewajiban dan tanggung jawab kepada-Nya. Kewajiban ini sangat jelas ditulis dalam Surat An-Nahl ayat 36 (yang artinya) : “Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. Demikian juga dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56 (yang artinya) : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah  kepada-Ku”.

Rasulullah SAW juga bersabda mengenai kewajiban ini (yang artinya) : Dari Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Saya pernah membonceng SAW di atas himar, beliau berkata kepada saya, “Tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah?” Saya berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Hak Allah atas hamba-Nya ialah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan hak hamba atas Allah ialah tidak diadzab selama dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberi kabar gembira ini kepada manusia ?” Beliau berkata, “Jangan engkau kabarkan, nanti mereka bersandar dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, tanggung jawab dan kewajiban itu adalah ibadah. Beribadah kepada Allah ini sebagai wujud ketaatan, ketundukan dan pengakuan kepada-Nya. Dengan demikian seluruh dimensi kehidupan kita yang 24 jam ini senantiasa tunduk dan patuh secara tulus dan otentik hanya kepada Allah (renungkan QS. Al-An’am ayat 162) .

Sumber : https://www.muhammadiyahlamongan.com/blog/memilih-jalan-kehidupan/

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here